KKP Percepat Rehabilitasi 15 Ribu Hektar Tambak di Aceh, Dorong Ekonomi Pesisir Kembali Bangkit
KKP Percepat Rehabilitasi 15 Ribu Hektar Tambak di Aceh, Dorong Ekonomi Pesisir Kembali Bangkit

KKP Percepat Rehabilitasi 15 Ribu Hektar Tambak di Aceh, Dorong Ekonomi Pesisir Kembali Bangkit

Aceh – Upaya memulihkan ekonomi masyarakat pesisir Aceh terus dipercepat. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) menargetkan sebanyak 15 ribu hektar tambak di Aceh kembali produktif hingga akhir 2026. Program ini menjadi langkah nyata untuk menghidupkan kembali sektor perikanan budidaya yang terdampak bencana sekaligus membuka peluang ekonomi bagi ribuan keluarga petambak.

Pemulihan dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, sekitar 5.200 hektar tambak ditargetkan sudah kembali beroperasi paling lambat September 2026, kemudian terus bertambah hingga mencapai target 15 ribu hektar pada akhir tahun. Rehabilitasi tidak hanya berfokus pada perbaikan tambak, tetapi juga didukung penyaluran benih, pakan, serta sarana produksi agar petambak dapat segera kembali menjalankan usaha budidaya setelah proses rehabilitasi selesai.

Sekretaris Jenderal KKP, Andy Artha, menegaskan bahwa pemerintah ingin memastikan masyarakat bisa langsung merasakan manfaat setelah tambak selesai diperbaiki. “Setelah rehabilitasi selesai, kami juga menyiapkan bantuan benih dan pakan sehingga petambak dapat langsung memulai budidaya,” ujarnya saat meninjau lokasi tambak di Aceh. Hingga saat ini, ratusan hektar tambak telah kembali berproduksi melalui penebaran benih udang, bandeng, kakap, dan nila salin. Pemerintah juga mengerahkan delapan unit excavator ke Aceh untuk mempercepat normalisasi tambak dan memperbaiki infrastruktur budidaya yang rusak akibat bencana.

Program rehabilitasi ini diperkirakan akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Berdasarkan perhitungan KKP, setiap hektar tambak yang kembali beroperasi berpotensi menghasilkan sekitar 600 kilogram udang dalam satu siklus budidaya, dengan nilai omzet sekitar Rp30 juta dalam tiga bulan. Potensi tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petambak, memperluas lapangan kerja, serta menggerakkan kembali aktivitas ekonomi di kawasan pesisir Aceh yang selama ini bergantung pada sektor perikanan budidaya.

Optimisme juga datang dari para petambak. Salah seorang petambak asal Pidie Jaya, Fazil, mengaku bantuan yang diberikan pemerintah menjadi modal penting untuk kembali memulai usaha setelah tambaknya terdampak bencana. “Saya yakin tiga bulan ke depan sudah bisa panen,” katanya. Pernyataan tersebut menjadi gambaran bahwa proses rehabilitasi tidak hanya memulihkan lahan tambak, tetapi juga membangkitkan kembali semangat masyarakat untuk berproduksi dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Melalui kolaborasi antara KKP, Satgas PRR, pemerintah daerah, dan masyarakat, rehabilitasi tambak di Aceh diharapkan menjadi titik awal kebangkitan sektor perikanan budidaya di wilayah pesisir. Ketika tambak kembali produktif, roda ekonomi masyarakat ikut bergerak, kesempatan kerja semakin terbuka, dan Aceh memiliki peluang besar untuk kembali menjadi salah satu sentra perikanan budidaya yang kuat, produktif, dan berdaya saing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *