Jaga Damai Aceh, Generasi Muda Diajak Tak Mudah Terprovokasi Jelang 4 Desember
Jaga Damai Aceh, Generasi Muda Diajak Tak Mudah Terprovokasi Jelang 4 Desember

Jaga Damai Aceh, Generasi Muda Diajak Tak Mudah Terprovokasi Jelang 4 Desember

Aceh – Perdamaian Aceh bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat dan masa depan generasi muda. Karena itu, masyarakat Aceh diajak untuk bersama-sama menjaga suasana damai dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai ajakan yang dapat memicu perpecahan.

Pesan tersebut disampaikan M. Tedi, seorang warga Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, melalui video narasi perdamaian yang dibuat pada Minggu (27/9/2026). Video tersebut mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, agar tetap tenang dalam menghadapi berbagai isu yang berkembang menjelang momentum 4 Desember 2026.

Menurut M. Tedi, masyarakat Aceh perlu belajar dari pengalaman konflik masa lalu. Jangan sampai perbedaan pandangan maupun kepentingan tertentu kembali menimbulkan persoalan yang pada akhirnya merugikan masyarakat sendiri.

Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak mudah percaya terhadap informasi maupun ajakan yang belum jelas. Menurutnya, menjaga suasana tetap aman dan nyaman jauh lebih penting agar masyarakat dapat menjalani aktivitas sehari-hari tanpa rasa khawatir.

“Jangan sampai kita terpengaruh hasutan. Kalau konflik kembali terjadi, yang merasakan dampaknya masyarakat sendiri,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam narasi video tersebut.

Pesan itu juga menyoroti pentingnya menjaga perdamaian bagi kehidupan sosial dan ekonomi. Kondisi yang aman memberi ruang bagi masyarakat untuk bekerja, menjalankan usaha, menempuh pendidikan, serta mengembangkan berbagai kegiatan yang dapat mendorong kemajuan daerah.

Pandangan bahwa perdamaian berkaitan erat dengan pembangunan juga muncul dalam sejumlah pernyataan publik sepanjang Agustus 2026. Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah mengajak masyarakat terus menjaga perdamaian dan menyebut tidak ada keuntungan dari keributan. Ia juga mengaitkan kondisi damai dengan kesempatan bagi Aceh untuk membangun dan memperkuat ekonomi masyarakat.

Sementara itu, Jusuf Kalla juga mengingatkan masyarakat Aceh agar tidak mengorbankan kemajuan yang telah dicapai selama 21 tahun setelah perdamaian Helsinki. Ia menyebut perdamaian telah memberikan perubahan dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi, pendidikan, kebebasan, dan kehidupan sosial.

Generasi Muda Punya Peran Penting

M. Tedi secara khusus mengajak generasi muda Aceh untuk tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling bermusuhan. Menurutnya, perbedaan suku, latar belakang, maupun pandangan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang perlu disikapi dengan saling menghargai.

Generasi muda juga dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan perdamaian. Edukasi mengenai sejarah konflik dan proses perdamaian dinilai penting agar anak muda memahami mengapa perdamaian perlu dijaga. Bupati Aceh Besar Muharram Idris sebelumnya juga menekankan perlunya edukasi sejarah perdamaian secara berkelanjutan kepada generasi muda Aceh.

Karena itu, momentum 4 Desember diharapkan tidak menjadi ruang untuk memperbesar perbedaan, tetapi dapat disikapi dengan lebih tenang dan dewasa. Sejarah tetap penting untuk dikenang, namun pengalaman masa lalu juga dapat menjadi pelajaran agar masyarakat tidak kembali terjebak dalam konflik.

Damai Bukan Berarti Diam

Menjaga perdamaian bukan berarti masyarakat tidak boleh menyampaikan pendapat. Perbedaan dan aspirasi tetap dapat disampaikan melalui cara-cara yang damai, tertib, dan tidak menggunakan kekerasan.

Dalam peringatan 21 tahun perdamaian Aceh pada Agustus 2026, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah juga menyampaikan bahwa berbagai persoalan yang masih ada perlu dihadapi melalui dialog, musyawarah, dan saling percaya.

Hal serupa disampaikan tokoh perdamaian Aceh Juha Christensen yang mengingatkan pentingnya melihat berbagai simbol dan sejarah Aceh dalam konteks perdamaian, bukan untuk kepentingan yang dapat memicu persoalan baru.

Melalui video tersebut, M. Tedi berharap masyarakat Aceh tetap menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan, dan tidak mudah terbawa provokasi yang dapat merusak suasana damai.

Aceh yang aman memberi ruang bagi masyarakat untuk bekerja, anak muda untuk berkarya, dan generasi berikutnya untuk tumbuh tanpa harus kembali merasakan konflik.

Pada akhirnya, pesan yang ingin disampaikan sederhana: beda pandangan boleh, berbeda pilihan boleh, tetapi perdamaian Aceh tetap perlu dijaga bersama.

#AcehDamai #JagaPerdamaianAceh #RawatPerdamaian #TolakProvokasi #AcehBersatu #GenerasiMudaAceh #HormatiPerbedaan #MiladGAM4Desember #AcehAman #AcehUntukBersama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *