Aceh – Perdamaian Aceh yang telah berjalan selama 21 tahun menjadi pengingat pentingnya menjaga persaudaraan dan menghargai perbedaan. Menjelang peringatan Milad Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 4 Desember 2026, seorang tokoh masyarakat asal Lhokseumawe menyampaikan pesan perdamaian melalui sebuah video yang dibuat pada Kamis(01/10/2026).
Jarkasi (50), warga Desa Hagu Selatan, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, mengajak masyarakat Aceh, khususnya generasi muda, untuk terus menjaga perdamaian yang telah diperjuangkan melalui kesepakatan Helsinki pada 15 Agustus 2005.
Dalam video tersebut, Jarkasi mengingatkan bahwa perdamaian bukan sesuatu yang datang begitu saja. Ada perjalanan panjang dan pengorbanan masyarakat Aceh di balik kehidupan yang kini lebih aman dan tenteram.
“Mari sama-sama kita menjaga perdamaian ini. Khususnya untuk generasi muda sekarang, jangan terpengaruh terhadap provokasi yang dibuat oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,” ujar Jarkasi dalam narasi videonya.
Generasi Muda dan Pentingnya Mengenal Sejarah Perdamaian
Generasi muda memiliki peran penting dalam perjalanan Aceh ke depan. Sebagian dari mereka lahir setelah konflik berakhir sehingga mengenal masa-masa sulit tersebut melalui cerita orang tua, keluarga, dan pelajaran sejarah.
Karena itu, Jarkasi berharap anak-anak muda dapat memahami perjalanan perdamaian Aceh dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya, terutama yang beredar di media sosial.
Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, setiap perbedaan sebaiknya disampaikan melalui dialog dan cara-cara damai, tanpa menimbulkan permusuhan.
Perdamaian Harus Membawa Manfaat bagi Masyarakat
Perdamaian Aceh tidak hanya berkaitan dengan berakhirnya konflik, tetapi juga menyangkut kehidupan masyarakat sehari-hari, mulai dari pendidikan, kesempatan bekerja hingga perkembangan ekonomi daerah.
Pada peringatan Hari Damai Aceh ke-21, Agustus 2026, Gubernur Aceh Muzakir Manaf juga menyampaikan pentingnya merawat perdamaian melalui persaudaraan. Ia menekankan bahwa perdamaian perlu menjadi jalan untuk meningkatkan kesejahteraan, membuka lapangan pekerjaan, dan memperkuat pendidikan.
Bagi Jarkasi, kehidupan yang damai memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk bekerja, membangun usaha, menyekolahkan anak, dan merencanakan masa depan tanpa dibayangi kekhawatiran akan terulangnya konflik.
Menjelang Milad GAM, Perbedaan Pandangan Perlu Disikapi dengan Bijak
Menjelang Milad GAM pada 4 Desember mendatang, berbagai pandangan mengenai sejarah, identitas, dan masa depan Aceh dapat kembali menjadi bahan perbincangan masyarakat.
Persoalan simbol dan bendera bulan bintang juga menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam dinamika perdamaian Aceh. Perbedaan pandangan mengenai persoalan tersebut menunjukkan pentingnya dialog yang melibatkan masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak terkait.
Melalui videonya, Jarkasi menyampaikan harapan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang dapat menimbulkan pertentangan. Ia juga mengajak warga untuk saling merangkul dan menjaga hubungan baik meskipun memiliki pandangan yang berbeda.
Pesan tersebut sejalan dengan seruan Wali Nanggroe Malik Mahmud Al Haythar menjelang peringatan 21 tahun MoU Helsinki pada Agustus 2026, yang mengajak masyarakat memperkuat persatuan serta menjadikan perdamaian sebagai landasan rekonsiliasi dan pembangunan Aceh.
Merawat Perdamaian Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Video yang dibuat Jarkasi diharapkan dapat menjadi bahan diskusi mengenai pentingnya menjaga perdamaian, khususnya di kalangan generasi muda.
Media sosial dapat menjadi ruang untuk berbagi cerita sejarah, mempertemukan beragam pandangan, serta menyampaikan harapan masyarakat terhadap masa depan Aceh. Penyampaian informasi yang akurat dan penghormatan terhadap perbedaan menjadi bagian penting dalam menjaga ruang diskusi yang sehat.
Lebih dari dua dekade setelah kesepakatan Helsinki, masyarakat Aceh masih memiliki harapan agar perdamaian terus memberikan manfaat nyata. Kesempatan kerja, pendidikan yang baik, kesejahteraan, dan penyelesaian berbagai persoalan melalui dialog menjadi bagian dari harapan tersebut.
Bagi masyarakat yang pernah merasakan masa konflik, perdamaian juga menyimpan harapan sederhana: anak-anak mereka dapat tumbuh, belajar, bekerja, dan membangun masa depan dalam suasana aman tanpa harus mengalami kembali kepahitan yang dirasakan generasi sebelumnya.