Aceh – Konten di media sosial yang mengangkat tagar #GAM dan Milad ke-50 Aceh Merdeka kembali menjadi perhatian. Salah satunya muncul melalui akun TikTok @bwtechcctv. Di tengah cepatnya penyebaran konten seperti ini, masyarakat perlu melihat persoalan Aceh secara utuh dan tidak hanya terpancing oleh potongan narasi, simbol, atau nostalgia masa konflik.
Sejarah Aceh memang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan panjang Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Setiap 4 Desember selama ini dikenal sebagai tanggal peringatan berdirinya GAM. Namun, perjalanan Aceh tidak berhenti pada masa konflik.
Aceh telah melewati fase panjang yang penuh luka dan kehilangan. Konflik bersenjata kemudian berakhir setelah Pemerintah Republik Indonesia dan GAM mencapai kesepakatan damai melalui MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005. Sejak saat itu, Aceh memasuki babak baru dengan mengedepankan perdamaian dan perjuangan melalui jalur politik serta pembangunan.
Karena itu, mengenang sejarah adalah hal yang wajar. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai sejarah justru dipakai untuk membangkitkan kembali emosi, permusuhan, atau keinginan saling berhadapan.
Konten di media sosial sering kali hanya menampilkan sebagian cerita. Potongan video, simbol, lagu, atau narasi tertentu bisa membangkitkan emosi dengan cepat, apalagi ketika dikemas dengan kata-kata yang provokatif. Padahal, Aceh hari ini membutuhkan suasana yang tenang agar masyarakat bisa fokus pada persoalan yang lebih nyata.
Pekerjaan, pendidikan, ekonomi, pembangunan, pengelolaan sumber daya alam, hingga kesejahteraan masyarakat masih menjadi hal penting yang perlu terus diperjuangkan. Jangan sampai perhatian masyarakat justru habis tersedot oleh narasi lama yang berpotensi membuka kembali perbedaan.
Pengalaman beberapa waktu terakhir juga menunjukkan bahwa persoalan simbol dan bendera masih menjadi isu sensitif di Aceh. Situasi seperti ini membutuhkan sikap tenang, komunikasi yang baik, dan penyelesaian melalui jalur hukum serta dialog, bukan dengan tindakan yang bisa memancing kericuhan.
Menariknya, dalam peringatan 4 Desember 2024, Muzakir Manaf atau Mualem pernah mengimbau agar peringatan dilakukan melalui kegiatan yang lebih positif seperti doa bersama, santunan anak yatim, dan kegiatan amal. Ia juga mengimbau agar tidak melakukan tindakan anarkis maupun pengibaran bendera Bulan Bintang.
Pesan ini penting untuk dipahami. Menghormati sejarah tidak harus berarti kembali membawa Aceh ke suasana konflik. Mengenang masa lalu tidak berarti mengorbankan masa depan.
Masyarakat Aceh, terutama generasi muda, perlu semakin cerdas dalam menghadapi konten yang beredar di media sosial. Jangan langsung percaya hanya karena sebuah video ramai ditonton atau memakai simbol yang mampu membangkitkan emosi.
Cek dulu konteksnya. Pahami dulu informasinya. Jangan langsung terpancing.
Aceh sudah melewati jalan panjang untuk mencapai perdamaian. Perbedaan pandangan tentu akan selalu ada, tetapi jangan sampai perbedaan itu kembali membuka ruang perpecahan.
Sejarah Aceh tetap harus dihormati. Identitas Aceh tetap harus dijaga. Namun, perdamaian yang telah dibangun selama bertahun-tahun juga tidak boleh dikorbankan hanya karena narasi provokatif yang beredar di media sosial.
Hari ini, Aceh membutuhkan energi untuk bergerak maju.
Sejarah boleh dikenang. Perdamaian harus dijaga.
Karena Aceh yang kuat bukan Aceh yang kembali terpecah, tetapi Aceh yang mampu belajar dari masa lalu dan bersama-sama membangun masa depan.
Aceh Damai. Aceh Maju. Masa Depan Dibangun Bersama.