Aceh — Pemulihan Aceh terus berjalan. Hingga 9 Agustus 2026, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menangani dan mengangkut sekitar 33.163 ton material lumpur, sampah, dan sisa bencana dari sejumlah wilayah terdampak. Langkah ini dilakukan agar lingkungan yang sempat tertutup material bencana bisa kembali bersih dan fasilitas yang terdampak dapat segera digunakan masyarakat.
Pekerjaan tidak berhenti pada pembersihan material. Kementerian PU juga mempercepat perbaikan jalan dan jembatan yang rusak akibat bencana. Sejumlah jembatan di Aceh terus dikebut agar kembali aman dilalui dan konektivitas warga serta distribusi logistik tidak terganggu. ANTARA mencatat progres Jembatan Lawe Mengkudu I di Aceh Tenggara telah mencapai 83,72 persen, Jembatan Lumut di Aceh Tengah 73,80 persen, dan Jembatan Ulee Langa di Aceh Utara 72,79 persen pada awal Juli 2026.
Kebutuhan dasar warga juga ikut menjadi perhatian. Pemulihan layanan air minum melalui SPAM terus dilakukan di Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Timur, Langsa, Pidie Jaya, Bireuen, dan Bener Meriah. RRI mencatat sejumlah paket pekerjaan tersebut terus menunjukkan progres dan ditujukan agar masyarakat kembali mendapatkan layanan air minum yang layak. Di sektor pertanian, irigasi Pante Lhong juga menjadi bagian penting dari pemulihan karena sistem tersebut melayani sekitar 6.562 hektare sawah di Bireuen.
Dengan penanganan yang terus berjalan, pemulihan Aceh mulai menyentuh kebutuhan yang paling dekat dengan kehidupan warga: lingkungan yang lebih bersih, jalan dan jembatan yang kembali terhubung, air yang kembali mengalir, serta sawah yang bisa kembali mendapat pasokan irigasi. 33.163 ton material yang sudah ditangani menjadi salah satu bukti bahwa proses pemulihan terus bergerak. Semakin cepat material dibersihkan dan fasilitas diperbaiki, semakin cepat pula masyarakat bisa kembali beraktivitas.