Aceh – Pembangunan Jembatan Gantung Perintis di Desa Kumbang Jaya, Kecamatan Badar, Aceh Tenggara, terus dikebut. TNI bersama warga turun langsung mengerjakan berbagai bagian jembatan agar akses yang selama ini dibutuhkan masyarakat itu bisa segera digunakan.
Gotong royong menjadi kekuatan utama dalam proses pembangunan. Personel Babinsa bersama masyarakat mengerjakan pemasangan papan lantai, pengencangan dan penguncian baut, hingga memperkuat bagian hanger atau pengait jembatan. Pekerjaan dilakukan bersama-sama dengan tetap memperhatikan kekuatan dan keamanan konstruksi.
Bagi warga Kumbang Jaya, jembatan ini bukan sekadar bangunan penghubung. Kehadirannya diharapkan mempermudah aktivitas sehari-hari, termasuk akses menuju lahan pertanian, membawa hasil panen, serta memperlancar hubungan warga dan kegiatan ekonomi di wilayah sekitar.
Semangat yang sama juga terlihat di Desa Lawe Pinis, Aceh Tenggara. TNI dan masyarakat terus bergandengan tangan mempercepat pembangunan jembatan gantung perintis. Upaya tersebut menunjukkan bahwa ketika kebutuhan warga dikerjakan bersama, pembangunan bisa bergerak lebih cepat dan manfaatnya bisa segera dirasakan.
Di sisi lain, kebutuhan jembatan tidak hanya menjadi perhatian di Aceh Tenggara. Pemerintah Aceh bersama Pemerintah Kabupaten Gayo Lues juga sedang mendorong percepatan pembangunan sejumlah infrastruktur yang rusak akibat bencana hidrometeorologi. Wakil Gubernur Aceh Fadhullah atau Dek Fadh bersama Bupati Gayo Lues Suhaidi mendatangi Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta pada 24 Agustus 2026 untuk memperjuangkan penanganan permanen jalan dan jembatan yang menjadi akses penting masyarakat.
Sedikitnya tujuh jembatan strategis di Gayo Lues diusulkan mendapat pembangunan permanen, yakni Jembatan Aih Bobo, Kendawi, Rerebe, Pintu Rime, Atu Peltak Penomon Jaya, Simpang Kenyaran–Aih Ilang, dan Lesten. Pemerintah daerah juga mengusulkan pembangunan Jalan Lesten sepanjang 10,7 kilometer.
Langkah tersebut memperlihatkan satu kebutuhan yang sama: akses jalan dan jembatan harus cepat dipulihkan karena menyangkut langsung kehidupan masyarakat. Ketika akses terbuka, distribusi kebutuhan lebih lancar, hasil pertanian lebih mudah dibawa ke pasar, anak-anak lebih mudah bersekolah, dan aktivitas ekonomi warga bisa kembali berjalan.
Pembangunan Jembatan Gantung Kumbang Jaya menjadi contoh sederhana bahwa perubahan tidak selalu harus menunggu proyek besar. Ketika warga mau turun tangan dan berbagai pihak ikut bergerak, pekerjaan yang ditunggu masyarakat bisa dipercepat. Harapannya, jembatan segera rampung, aman digunakan, dan benar-benar menjadi jalan baru bagi warga untuk bergerak, bekerja, dan meningkatkan perekonomian.
Gotong royong jalan terus, jembatan segera tuntas, akses warga makin mudah.