Sekolah Makin Layak, Anak Makin Nyaman Belajar! Pemerintah Kejar Renovasi Sekolah di Seluruh Indonesia
Sekolah Makin Layak, Anak Makin Nyaman Belajar! Pemerintah Kejar Renovasi Sekolah di Seluruh Indonesia

Sekolah Makin Layak, Anak Makin Nyaman Belajar! Pemerintah Kejar Renovasi Sekolah di Seluruh Indonesia

Aceh – Pemerintah terus mempercepat program renovasi dan revitalisasi sekolah di berbagai daerah Indonesia. Bukan hanya sekolah di kota besar, program ini juga menyasar sekolah yang kondisinya rusak, berada di wilayah 3T, hingga sekolah yang terdampak bencana. Tujuannya sederhana: memastikan anak-anak bisa belajar di tempat yang aman, nyaman, dan layak.

Pada 2026, pemerintah memperluas sasaran Program Revitalisasi Satuan Pendidikan hingga 71.744 sekolah di seluruh Indonesia. Prioritasnya diberikan kepada sekolah dengan kerusakan berat, sekolah di daerah tertinggal, terdepan dan terluar, serta sekolah yang membutuhkan perbaikan setelah terkena bencana. Program ini mencakup perbaikan bangunan, ruang kelas, sanitasi, lingkungan sekolah, hingga berbagai fasilitas pendukung pembelajaran.

Presiden Prabowo Subianto bahkan memasang target yang lebih besar. Pemerintah berharap proses revitalisasi terus meningkat setiap tahun sehingga seluruh sekolah di Indonesia dapat selesai direnovasi pada 2029. Dalam penyampaiannya, Prabowo menyebut target 2026 mencapai 77 ribu sekolah, kemudian meningkat menjadi 100 ribu pada 2027 dan 2028, sebelum seluruh sekolah ditargetkan selesai pada 2029.

Yang membuat program ini menarik, manfaatnya mulai terlihat di sejumlah daerah. Salah satunya SDN Tanggirejo di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, yang mengalami kerusakan berat. Pemerintah bergerak cepat dan revitalisasi sekolah tersebut mulai dikerjakan pada 25 Juli 2026. Perbaikan ini ditujukan agar 131 siswa dapat kembali belajar di lingkungan yang lebih aman dan layak.

Cerita serupa datang dari Pulau Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Setelah 21 tahun berdiri, SMK Negeri 2 Talaud Miangas akhirnya mendapatkan bantuan revitalisasi lebih dari Rp997 juta. Dana tersebut digunakan untuk memperbaiki tiga ruang kelas, laboratorium komputer, UKS, toilet, dan ruang BK. Menariknya, pihak sekolah menyebut perbaikan fasilitas ikut meningkatkan kepercayaan orang tua dan jumlah murid dalam dua tahun terakhir.

Artinya, renovasi sekolah tidak berhenti pada memperbaiki bangunan yang rusak. Ketika ruang kelas lebih nyaman, toilet lebih layak, fasilitas belajar tersedia dan lingkungan sekolah lebih aman, anak-anak juga punya tempat yang lebih mendukung untuk belajar. Orang tua pun semakin yakin bahwa sekolah di daerah mereka mampu memberikan lingkungan pendidikan yang baik.

Hal tersebut juga terlihat di Aceh, khususnya SD Negeri 7 Jangka, Kabupaten Bireuen, yang sebelumnya terdampak banjir lumpur pada November 2025. Saat ditinjau Wakil Presiden Gibran Rakabuming pada 6 Agustus 2026, progres renovasinya sudah mencapai 86 persen dan ditargetkan selesai pada Oktober. Sekolah yang sebelumnya tidak bisa digunakan karena kerusakan kini mulai kembali dipakai untuk kegiatan belajar.

Program revitalisasi ini pada akhirnya membawa pesan yang cukup jelas: sekolah yang layak harus bisa dirasakan anak-anak di mana pun mereka tinggal. Dari kota, desa, pulau terluar sampai wilayah yang baru pulih dari bencana, perbaikan sekolah menjadi bagian penting untuk membuat proses belajar lebih aman dan nyaman.

Dengan target yang terus diperbesar hingga 2029, pekerjaan pemerintah memang masih panjang. Namun, ketika sekolah yang sudah lama menunggu perbaikan mulai dibenahi, sekolah di pulau terluar ikut mendapatkan perhatian, dan sekolah terdampak bencana kembali digunakan, masyarakat bisa melihat bahwa program ini mulai memberikan hasil yang nyata.

Sekolah lebih baik, anak lebih nyaman belajar. Dan ketika fasilitas pendidikan diperbaiki secara merata, semakin banyak anak Indonesia punya kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar dan mengejar masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *