Aceh — Menjelang peringatan Hari Damai Aceh ke-21 pada 15 Agustus 2026, Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Teungku Malik Mahmud Al Haythar mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga perdamaian, memperkuat persaudaraan, dan tidak mudah terprovokasi. Pesan tersebut disampaikan sebagai pengingat bahwa perdamaian yang telah berjalan selama 21 tahun bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Wali Nanggroe menyebut 15 Agustus menjadi momentum penting untuk mengingat penandatanganan MoU Helsinki pada 2005 yang mengakhiri konflik berkepanjangan di Aceh. Menurutnya, perdamaian telah membuka ruang bagi rekonsiliasi, pembangunan, demokrasi, pendidikan, ekonomi, pelayanan kesehatan, hingga kerja sama Aceh dengan berbagai pihak. Ia juga menilai semangat damai terbukti mampu memperkuat solidaritas masyarakat ketika Aceh menghadapi bencana pada November 2025. Karena itu, masyarakat diajak menjaga suasana tetap aman dan tidak memberi ruang bagi pihak yang ingin menebarkan kebencian atau memecah persaudaraan.
Pesan menjaga perdamaian juga mendapat dukungan dari masyarakat dan ulama Aceh. Forum Bersama Acèh Meusaboh (ForBAM) menyatakan dukungan terhadap doa bersama ulama Aceh yang dijadwalkan pada 15 Agustus di halaman Masjid Raya Baiturrahman. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk bersyukur, mendoakan keselamatan Aceh, sekaligus memperkuat rasa persaudaraan. ForBAM juga mengajak masyarakat mengikuti kegiatan dengan tertib dan penuh kebersamaan.
Di sisi lain, pesan perdamaian mulai diarahkan kepada generasi muda agar mereka memahami bagaimana perdamaian Aceh lahir dan mengapa harus terus dijaga. Bupati Aceh Besar Muharram Idris menilai edukasi sejarah perdamaian perlu dilakukan secara berkelanjutan karena banyak anak muda saat ini lahir setelah konflik berakhir. Ia berharap peringatan Hari Damai Aceh tidak berhenti sebagai acara seremonial, tetapi juga memperlihatkan manfaat nyata perdamaian bagi masyarakat.
Pada akhirnya, menjaga perdamaian Aceh bukan pekerjaan satu pihak saja. Masyarakat bisa ikut mengambil bagian lewat hal-hal sederhana: tidak mudah percaya provokasi, tidak menyebarkan kebencian, menghargai perbedaan, menjaga hubungan baik dengan sesama, dan mengajarkan sejarah perdamaian kepada generasi muda. Seperti pesan Wali Nanggroe, “Perdamaian adalah warisan bersama yang harus terus dirawat sebagai amanah lintas generasi.”