Aceh – Pesan untuk menjaga perdamaian Aceh kembali disuarakan dari kalangan mahasiswa. Menjelang momentum Milad GAM 4 Desember, seorang mahasiswi Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, Aceh Barat, membuat video singkat yang mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk bersama-sama merawat perdamaian dan persaudaraan.
Video tersebut dibuat pada Senin, 21 September 2026, oleh Lia Riska, 22 tahun, mahasiswi Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi yang berasal dari Nagan Raya.
Lewat video itu, Lia mengajak anak muda Aceh untuk melihat sejarah sebagai pelajaran, bukan sebagai alasan untuk kembali terpecah. Ia juga mengingatkan pentingnya saling menghargai, menghindari kekerasan, serta menyelesaikan persoalan dengan cara yang damai.
“Sejarah adalah bagian dari perjalanan yang patut kita pahami dan jadikan pelajaran. Mari menjaga persaudaraan, menghormati perbedaan, menghindari kekerasan, serta menyelesaikan setiap persoalan dengan cara yang damai,” demikian pesan yang disampaikan dalam video tersebut.
Ia juga mengajak masyarakat membangun Aceh yang aman, rukun dan memiliki harapan bagi generasi mendatang.
“Jangan wariskan perpecahan. Mari wariskan perdamaian dan persaudaraan,” menjadi salah satu pesan utama dalam video tersebut.
Suara Anak Muda untuk Aceh
Pembuatan video ini menjadi salah satu bentuk partisipasi anak muda dalam menyampaikan pesan positif di ruang digital. Media sosial dinilai dapat menjadi ruang untuk menyebarkan pesan perdamaian dengan bahasa yang lebih dekat dengan generasi muda.
Pesan tersebut juga sejalan dengan dorongan sejumlah pihak di Aceh agar sejarah perdamaian terus dikenalkan kepada generasi muda. Bupati Aceh Besar Muharram Idris pada Agustus 2026 menekankan pentingnya edukasi sejarah perdamaian Aceh agar generasi muda memahami bagaimana perdamaian lahir dan mengapa perdamaian perlu dijaga.
Sementara itu, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga perdamaian dan menghindari keributan. Menurutnya, perdamaian yang berkelanjutan perlu dijaga bersama oleh seluruh masyarakat Aceh.
Seruan serupa juga disampaikan Wali Nanggroe Aceh menjelang peringatan 21 tahun Hari Damai Aceh. Ia mengajak masyarakat menjaga perdamaian, memperkuat persaudaraan dan membangun masa depan Aceh secara bersama-sama.
Jangan Mudah Terprovokasi
Dalam narasi videonya, Lia juga mengajak generasi muda agar tidak mudah terbawa oleh isu-isu yang dapat memicu perpecahan.
Menurutnya, menjaga perdamaian tidak harus dimulai dari hal besar. Anak muda dapat mengambil bagian melalui sikap saling menghargai, menjaga komunikasi, tidak menyebarkan provokasi, dan menggunakan media sosial untuk menyebarkan hal-hal yang membawa manfaat.
Pesan tersebut menjadi penting karena ruang digital saat ini menjadi salah satu tempat masyarakat mendapatkan dan membagikan informasi. Karena itu, konten yang mengangkat persaudaraan dan perdamaian dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat suasana yang kondusif di tengah masyarakat.
Perdamaian untuk Generasi Berikutnya
Video tersebut tidak hanya ditujukan untuk momentum 4 Desember, tetapi juga membawa pesan yang lebih luas tentang masa depan Aceh.
Generasi muda diajak untuk memahami sejarah sekaligus melihat manfaat dari kehidupan yang damai. Dengan begitu, pengalaman masa lalu dapat menjadi pembelajaran agar konflik dan kekerasan tidak kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Pesan akhirnya sederhana: Aceh punya sejarah, tetapi Aceh juga punya masa depan.
Karena itu, generasi muda diharapkan ikut menjaga ruang pergaulan dan ruang digital agar tetap diisi dengan pesan yang membangun.
“Milad GAM 4 Desember, mari jaga perdamaian Aceh bersama.”
Pesan tersebut menjadi penutup video yang dibuat Lia Riska, sekaligus ajakan kepada masyarakat Aceh untuk terus merawat persaudaraan dan perdamaian.