Aceh — Menjelang peringatan Milad GAM pada 4 Desember 2026, masyarakat Aceh diajak tidak mudah terpancing provokasi dan memilih jalan dialog ketika menghadapi perbedaan.
Ajakan tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Koalisi NGO HAM Aceh, Khairil Arista, S.H., dalam kegiatan pembuatan video bertema menjaga perdamaian Aceh di wilayah Kota Banda Aceh, 27 September 2026.
Khairil menilai perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan masyarakat. Namun, perbedaan tersebut sebaiknya tidak berkembang menjadi pertentangan yang dapat mengganggu suasana damai yang telah dibangun di Aceh.
Menurutnya, berbagai persoalan Aceh masih bisa dibicarakan melalui komunikasi terbuka, dialog dan kerja sama antarelemen masyarakat.
“Perbedaan pandangan jangan sampai menjadi alasan untuk saling berhadapan. Kita bisa mencari jalan keluar melalui dialog dan kolaborasi,” demikian pesan yang disampaikan Khairil dalam video tersebut.
Ia juga menekankan bahwa menjaga perdamaian bukan hanya menjadi tanggung jawab satu kelompok. Masyarakat, pemuda, organisasi kemasyarakatan dan berbagai elemen sipil memiliki peran untuk menjaga suasana Aceh tetap aman dan kondusif.
Seruan untuk mengedepankan dialog tersebut juga sejalan dengan pernyataan Khairil yang diberitakan sejumlah media pada September 2026. Ia mengajak masyarakat mengubah pola komunikasi yang konfrontatif menjadi komunikasi yang lebih dialogis, konstruktif dan kolaboratif.
Jangan Sampai Provokasi Merusak Perdamaian
Khairil mengingatkan agar momentum 4 Desember tidak diisi dengan kegiatan, deklarasi maupun narasi yang berpotensi memicu keresahan atau pertentangan di tengah masyarakat.
Menurutnya, penyampaian aspirasi tetap dapat dilakukan, tetapi dengan cara yang damai dan sesuai aturan yang berlaku.
“Kalau ada perbedaan, mari dibicarakan. Kalau ada persoalan, mari dicari solusinya bersama. Jangan sampai provokasi justru merusak perdamaian yang sudah kita rasakan,” menjadi inti pesan dalam video tersebut.
Pesan ini disampaikan di tengah perhatian terhadap kondisi perdamaian Aceh menjelang sejumlah momentum yang berkaitan dengan sejarah konflik dan perdamaian. Pada peringatan Hari Damai Aceh ke-21 pada Agustus 2026, sempat terjadi kericuhan di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, meski kemudian situasi dinyatakan kembali kondusif.
Sejumlah pemberitaan terbaru juga mencatat adanya kembali penggunaan simbol dan narasi yang berkaitan dengan isu kemerdekaan Aceh. The Jakarta Post pada 29 September 2026 menyoroti munculnya kembali simbol dan seruan pro-kemerdekaan serta mengaitkannya dengan dinamika hubungan Aceh dan pemerintah pusat setelah lebih dari dua dekade perdamaian.
Rawat Perdamaian untuk Masa Depan Aceh
Selain berbicara tentang pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban, Khairil juga menyoroti persoalan pemulihan masyarakat yang terdampak konflik masa lalu.
Ia berpandangan bahwa pemulihan tidak cukup hanya melalui bantuan ekonomi. Pendidikan dan kesehatan juga perlu mendapat perhatian agar dampak konflik tidak terus dirasakan oleh generasi berikutnya.
Menurutnya, anak-anak yang terdampak konflik membutuhkan kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan dan dukungan agar dapat membangun masa depan yang lebih baik.
Karena itu, perdamaian Aceh tidak cukup hanya dikenang sebagai sejarah. Perdamaian perlu dijaga melalui kerja sama, komunikasi dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Khairil mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk tidak membuka kembali luka lama melalui tindakan yang dapat memecah persaudaraan.
“Aceh sudah punya pengalaman panjang. Sekarang yang penting bagaimana kita menjaga perdamaian, memperkuat persaudaraan dan membangun masa depan Aceh bersama-sama.”
Pesan tersebut menjadi bagian utama dari video yang dibuat menjelang Milad GAM 4 Desember 2026, dengan harapan masyarakat tetap mengedepankan dialog, tidak mudah terprovokasi, serta bersama-sama menjaga Aceh tetap aman, damai dan kondusif.
Aceh damai bukan milik satu kelompok. Perdamaian adalah ruang bersama yang perlu dijaga bersama.