Mahasiswa Aceh Barat Sampaikan Pesan Damai Jelang 4 Desember, Ajak Anak Muda Jaga Persaudaraan
Mahasiswa Aceh Barat Sampaikan Pesan Damai Jelang 4 Desember, Ajak Anak Muda Jaga Persaudaraan

Mahasiswa Aceh Barat Sampaikan Pesan Damai Jelang 4 Desember, Ajak Anak Muda Jaga Persaudaraan

Aceh – Pesan untuk menjaga perdamaian Aceh kembali disuarakan oleh kalangan mahasiswa menjelang momentum 4 Desember 2026. Melalui sebuah video pendek berbahasa Aceh, mahasiswa mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk melihat sejarah sebagai pelajaran sekaligus menjaga persaudaraan agar perdamaian yang telah dirasakan bersama tetap terawat.

Video tersebut dibuat pada 30 September 2026 oleh Roma Fhazillah, mahasiswa berusia 20 tahun dari Program Studi Pendidikan Agama Islam, Jurusan Tarbiyah dan Keguruan, STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh. Ia berasal dari Gunong Buloh, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat.

Dalam video itu, Roma menyampaikan pesan sederhana agar momentum 4 Desember tidak menjadi alasan untuk memperlebar perbedaan, tetapi menjadi kesempatan untuk mengingat perjalanan sejarah Aceh dan mengambil pelajaran darinya.

“4 Desember nyan bagian dari sejarah Aceh. Ta peugot sejarah nyan keu peulajaran, bukon untuk ta ulang konflik, tapi untuk ta peukong persaudaraan dan ta bangun masa depan Aceh.”

Pesan tersebut disampaikan dengan bahasa Aceh agar lebih dekat dengan masyarakat, terutama anak muda yang menjadi sasaran utama video.

Ajak Anak Muda Rawat Perdamaian

Dalam narasinya, Roma mengajak masyarakat Aceh untuk bersama-sama menjaga suasana damai yang telah dirasakan selama ini.

Ia juga menekankan bahwa perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut diharapkan tidak sampai merusak hubungan antarsesama masyarakat Aceh.

“Jeut beda pandangan, tapi bek sampoe peubedaan nyan jeut peupecah,” menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan dalam video tersebut.

Ajakan ini sejalan dengan sejumlah kegiatan dan pemberitaan sepanjang 2026 yang menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan perdamaian Aceh. Dalam kegiatan Kirab Aceh 2026, misalnya, Garda Damai Aceh juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda untuk memahami sejarah konflik dan proses perdamaian agar pengalaman masa lalu dapat menjadi pembelajaran bagi masa depan. BERITAMERDEKA.NET

Sementara itu, pemberitaan Radar24 pada Agustus 2026 juga mengangkat pesan agar konflik tidak diwariskan kepada generasi berikutnya dan mendorong pemuda untuk mengubah energi perdebatan menjadi kegiatan yang memberi manfaat bagi masyarakat. RADAR24.co.id

Sejarah untuk Dipelajari, Bukan Diulang

Pesan dalam video tidak mengajak masyarakat melupakan sejarah. Sebaliknya, sejarah Aceh ditempatkan sebagai bagian penting yang perlu dipahami oleh generasi muda.

Melalui narasi tersebut, masyarakat diajak untuk mengambil pelajaran dari pengalaman masa lalu dan menjadikannya dasar untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Pendekatan semacam ini juga terlihat dalam kegiatan pendidikan dan kreativitas pelajar di Aceh. Dinas Pendidikan Aceh pada Juli 2026 mengajak pelajar menyampaikan pesan perdamaian, persatuan dan kebangsaan melalui video pendek dalam kegiatan “Gebyar Kreativitas Pelajar Aceh 2026: Rawat Perdamaian dalam Semangat Kemerdekaan”. Nukilan

Dengan media video, pesan perdamaian dinilai dapat disampaikan dengan cara yang lebih dekat dengan kebiasaan generasi muda saat ini, terutama melalui media sosial.

Jangan Wariskan Air Mata

Bagian lain yang cukup kuat dalam video tersebut adalah ajakan agar generasi saat ini tidak mewariskan pengalaman pahit konflik kepada anak cucu.

Roma menyampaikan:

“Bek ta wariskan ie mata keu aneuk cuco tanyoe. Ta wariskan Aceh yang damai, aman, dan peunoh harapan.”

Pesan tersebut mengarah pada harapan agar generasi berikutnya dapat tumbuh dalam suasana yang aman serta memiliki kesempatan untuk belajar, bekerja dan membangun daerahnya.

Gagasan mengenai perdamaian sebagai warisan bagi generasi berikutnya juga menjadi bagian dari pesan berbagai kegiatan peringatan perdamaian Aceh pada 2026. Garda Damai Aceh, misalnya, menyebut perdamaian bukan hanya catatan sejarah, tetapi proses yang membutuhkan komitmen dan partisipasi masyarakat untuk terus menjaganya. BERITAMERDEKA.NET

Media Sosial Jadi Ruang Anak Muda Menyampaikan Pesan

Video yang dibuat oleh mahasiswa tersebut selanjutnya dapat disebarluaskan melalui berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, WhatsApp dan YouTube.

Penggunaan media sosial menjadi salah satu cara untuk menjangkau anak muda dengan bahasa yang lebih sederhana dan tidak terlalu formal.

Pesan yang dibawa pun dibuat singkat: jaga Aceh, jaga persaudaraan dan rawat perdamaian.

Dengan pendekatan tersebut, narasi perdamaian tidak hanya disampaikan dalam kegiatan formal, tetapi juga dapat hadir dalam ruang digital yang sehari-hari digunakan oleh generasi muda.

Perdamaian Dimulai dari Hal Sederhana

Pada akhirnya, video tersebut membawa pesan bahwa menjaga perdamaian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Menghargai perbedaan, menjaga komunikasi, tidak mudah terprovokasi dan tetap menghormati sesama merupakan bagian dari upaya merawat suasana damai.

Bagi generasi muda Aceh, memahami sejarah sekaligus menjaga hubungan baik antarsesama menjadi bagian dari tanggung jawab bersama untuk melihat Aceh ke depan.

“Ta jaga Aceh, ta jaga persaudaraan, dan ta rawat perdamaian.”

Pesan sederhana itu menjadi penutup utama narasi video yang dibuat Roma Fhazillah—sebuah ajakan agar momentum 4 Desember dapat diisi dengan refleksi sejarah, persaudaraan dan harapan untuk masa depan Aceh yang damai.

#JagaDamaiAceh #AcehDamai #PemudaAceh #AnakMudaAceh #RawatPerdamaian #JagaPersaudaraan #PerdamaianAceh #4Desember #MiladGAM #Aceh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *