Aceh – Menjaga perdamaian Aceh bukan hanya tugas aparat, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. Di tengah ramainya informasi dan berbagai isu yang beredar di media sosial, warga diharapkan tetap tenang, bijak menyikapi informasi, serta tidak mudah terpancing oleh ajakan yang berpotensi memicu konflik.
Pesan tersebut menjadi salah satu hal yang dibahas dalam pertemuan bersama Drs. M. Isa Alima, pemerhati sosial kemasyarakatan Aceh sekaligus mantan anggota DPRK Pidie, di Warkop Kulam Kupi, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, pada 13 September 2026.
Dalam pertemuan itu, Isa menyampaikan dukungannya terhadap upaya menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat Banda Aceh. Menurutnya, sebagai pusat pemerintahan Provinsi Aceh, Banda Aceh memiliki peran penting dalam berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari pemerintahan, pendidikan, kegiatan keagamaan hingga perekonomian.
Bijak Bermedia Sosial, Jangan Gampang Terpancing
Perkembangan media sosial seperti TikTok membuat berbagai informasi dapat menyebar dengan cepat. Namun, tidak semua informasi yang beredar bisa langsung dipercaya, apalagi jika berisi ajakan yang dapat memancing emosi atau memperkeruh suasana.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah beredarnya narasi terkait rencana pengibaran bendera Bulan Bintang pada peringatan Milad GAM, 4 Desember 2026. Masyarakat diimbau untuk tidak terburu-buru menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya dan tidak ikut memperkeruh keadaan hanya karena terpengaruh unggahan di media sosial.
Perbedaan pandangan dan penyampaian aspirasi merupakan persoalan yang perlu disikapi dengan bijak. Karena itu, penting bagi semua pihak untuk mengedepankan komunikasi, menghormati aturan yang berlaku, serta menghindari tindakan yang bisa memicu benturan di tengah masyarakat.
Belajar dari Peristiwa di Masjid Raya Baiturrahman
Kericuhan yang terjadi setelah kegiatan zikir dan doa bersama dalam rangka peringatan 21 tahun perdamaian Aceh di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada 15 Agustus 2026, menjadi pengingat bahwa situasi yang awalnya berjalan tertib dapat berubah ketika ketegangan meningkat.
Sejumlah laporan media menyebutkan bahwa kericuhan terjadi setelah rangkaian kegiatan selesai. Insiden tersebut juga berdampak pada warga, aparat, serta sejumlah kendaraan dan fasilitas di sekitar lokasi. The Aceh Post dan The Aceh Post.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa kegiatan sosial dan keagamaan perlu dijaga agar tetap berlangsung dengan tertib dan damai. Masyarakat juga diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh pihak mana pun yang mengajak melakukan tindakan yang berisiko menimbulkan perselisihan.
Tokoh Masyarakat Punya Peran Penting
Sebagai tokoh masyarakat yang pernah menjadi anggota DPRK Pidie pada periode 1999–2004 dan 2014–2019, Isa menyatakan kesediaannya untuk ikut memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya warga Banda Aceh.
Edukasi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat mengenali informasi yang menyesatkan, menyikapi perbedaan secara dewasa, dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang berpotensi memecah belah.
Isa juga menyatakan kesiapannya untuk menjalin komunikasi dan berkoordinasi dengan berbagai elemen masyarakat apabila diperlukan, termasuk dalam upaya menjaga keamanan dan mencegah berkembangnya persoalan yang dapat memicu konflik sosial.
Peran tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, organisasi kemasyarakatan, dan mahasiswa juga dinilai penting dalam membangun komunikasi yang terbuka. Dengan saling mendengar dan memahami, perbedaan pandangan dapat dibicarakan tanpa harus berujung pada pertikaian.
Merawat Perdamaian Dimulai dari Sikap Kita
Menjaga Banda Aceh tetap aman bukan berarti masyarakat tidak boleh menyampaikan pendapat. Yang terpenting adalah bagaimana aspirasi disampaikan secara damai, informasi diperiksa sebelum dibagikan, dan setiap persoalan diselesaikan melalui komunikasi yang baik.
Perdamaian Aceh merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat yang perlu terus dirawat bersama. Karena itu, setiap warga punya peran, sekecil apa pun, untuk menjaga suasana tetap nyaman dan mendukung aktivitas masyarakat berjalan dengan baik.
Beda pendapat boleh, saling menghormati tetap harus. Mari jaga kedamaian Aceh, bijak bermedia sosial, dan jangan biarkan provokasi merusak kebersamaan.