Mahasiswa Bireuen Ajak Warga Jaga Damai Aceh dan Tak Mudah Terprovokasi Jelang Milad GAM ke-50
Mahasiswa Bireuen Ajak Warga Jaga Damai Aceh dan Tak Mudah Terprovokasi Jelang Milad GAM ke-50

Mahasiswa Bireuen Ajak Warga Jaga Damai Aceh dan Tak Mudah Terprovokasi Jelang Milad GAM ke-50

Aceh – Menjelang peringatan Milad GAM ke-50, masyarakat Aceh diingatkan untuk tidak mudah terpancing oleh berbagai ajakan maupun informasi yang dapat memicu perpecahan. Momentum peringatan sejarah Aceh dinilai lebih baik diisi dengan mengingat perjalanan masa lalu sekaligus menjaga perdamaian yang sudah berlangsung selama lebih dari dua dekade.

Hal tersebut disampaikan salah seorang mahasiswa asal Bireuen, Syawal, saat memberikan tanggapan dalam kegiatan pembuatan video bersama sejumlah masyarakat dan mahasiswa di sebuah kafe di kawasan Pulo Ara, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen, Rabu (16/9/2026).

Syawal mengatakan, Milad GAM ke-50 seharusnya tidak hanya dipandang sebagai agenda tahunan. Menurutnya, momentum tersebut dapat menjadi kesempatan bagi generasi muda Aceh untuk memahami kembali sejarah, perjuangan, pengorbanan, serta berbagai peristiwa yang pernah dilalui masyarakat Aceh.

“Setengah abad bukan waktu yang singkat. Banyak perjalanan yang sudah dilalui masyarakat Aceh. Kita perlu mengambil pelajaran dari masa lalu dan menghargai pengorbanan para pendahulu,” ujarnya.

Ia menilai pengalaman panjang Aceh seharusnya menjadi pelajaran bagi generasi sekarang agar tidak mengulangi berbagai persoalan yang pernah menimbulkan konflik dan perpecahan.

Menurut Syawal, perdamaian Aceh yang lahir setelah penandatanganan MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005 merupakan bagian penting dari perjalanan Aceh. Karena itu, perdamaian tersebut perlu dijaga bersama melalui sikap saling menghargai, persaudaraan, dan komunikasi yang baik.

“Jangan sampai perdamaian yang sudah kita rasakan hanya menjadi cerita sejarah. Kita semua punya tanggung jawab untuk menjaganya,” katanya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah kembali munculnya berbagai pembahasan di ruang publik mengenai sejarah GAM, peringatan Milad GAM, serta aktivitas sejumlah pihak yang membawa isu Aceh ke forum internasional. Salah satunya terkait kehadiran Tgk Fajri Krueng dalam forum masyarakat adat PBB pada 2026. Sejumlah media melaporkan bahwa Fajri menyampaikan isu hak masyarakat Aceh dan hak penentuan nasib sendiri dalam forum tersebut, sementara perwakilan Indonesia memberikan tanggapan mengenai ruang lingkup forum dan isu integritas teritorial.

Dalam beberapa tahun terakhir, peringatan Milad GAM di Bireuen juga pernah diwarnai berbagai kegiatan dan pernyataan dari eks kombatan maupun masyarakat. Pada 2025, misalnya, sejumlah eks kombatan di Bireuen mengimbau masyarakat agar menjaga perdamaian menjelang Milad GAM.

Syawal mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak mudah terpengaruh oleh potongan video, unggahan media sosial, maupun narasi yang belum jelas sumber dan konteksnya. Menurut dia, perbedaan pandangan terkait sejarah dan masa depan Aceh sebaiknya disampaikan melalui cara-cara damai dan ruang yang sesuai.

“Kalau ada perbedaan pendapat, silakan disampaikan dengan cara yang baik. Jangan sampai perbedaan itu membuat sesama masyarakat Aceh saling bermusuhan,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menjadikan peringatan Milad GAM ke-50 sebagai momentum mempererat silaturahmi, bukan sebagai alasan untuk kembali mempertajam perbedaan.

“Yang kita inginkan tentu Aceh tetap aman, damai dan masyarakatnya bisa hidup tenang. Sejarah tetap kita hormati, tetapi masa depan juga harus kita pikirkan bersama,” katanya.

Menurutnya, generasi muda Aceh memiliki peran penting dalam menjaga suasana tetap kondusif. Mahasiswa dan masyarakat diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi yang sehat serta tidak ikut menyebarkan informasi yang berpotensi menimbulkan keresahan.

Peringatan sejarah, lanjutnya, tetap penting karena dari sejarah masyarakat dapat belajar mengenai berbagai pengorbanan dan perjalanan yang telah dilalui. Namun, sejarah juga seharusnya menjadi bahan pembelajaran untuk membangun kehidupan Aceh yang lebih baik.

“Semoga semangat para pendahulu menjadi inspirasi bagi generasi sekarang. Kita jaga persatuan, kita jaga silaturahmi, dan kita rawat perdamaian Aceh,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *