Mahasiswa Bireuen Ajak Masyarakat Tidak Terprovokasi dan Tetap Jaga Perdamaian Aceh
Mahasiswa Bireuen Ajak Masyarakat Tidak Terprovokasi dan Tetap Jaga Perdamaian Aceh

Mahasiswa Bireuen Ajak Masyarakat Tidak Terprovokasi dan Tetap Jaga Perdamaian Aceh

Aceh — Sejumlah mahasiswa di Kabupaten Bireuen menyampaikan pandangan agar masyarakat tidak mudah terpancing oleh berbagai narasi yang berkembang menjelang momentum 4 Desember atau Milad Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Mereka menilai sejarah Aceh tetap penting untuk dipahami, namun pembahasannya perlu disikapi dengan tenang dan tidak menjadi alasan untuk membuka kembali konflik masa lalu.

Pandangan tersebut disampaikan dalam kegiatan pembuatan video tanggapan masyarakat dan mahasiswa yang berlangsung pada 16 September 2026 di salah satu kafe di kawasan Pulo Ara, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen.

Salah seorang mahasiswa Pertanian Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI) yang juga menjabat sebagai Humas BEM Pertanian, Reza, mengatakan bahwa pembahasan mengenai 4 Desember tidak dapat dilepaskan dari sejarah Aceh yang panjang dan memiliki sisi sensitif bagi sebagian masyarakat.

Menurutnya, 4 Desember bagi sebagian masyarakat Aceh dikenal sebagai tanggal yang berkaitan dengan lahirnya GAM dan kemudian menjadi bagian dari ingatan sejarah Aceh. Namun, pada sisi lain, momentum tersebut juga mengingatkan masyarakat pada masa konflik yang pernah menimbulkan kehilangan dan kesulitan bagi banyak warga.

“Yang paling penting, sejarah jangan dilihat dari satu sisi saja. Kita boleh mengingat dan membahas sejarah, tetapi perdamaian yang sudah tercapai juga harus dihargai,” ujar Reza dalam tanggapannya.

Ia menilai perbedaan pandangan terhadap sejarah merupakan hal yang perlu disikapi secara dewasa. Menurutnya, generasi muda memiliki peran untuk memahami sejarah tanpa harus terjebak pada narasi yang dapat memicu pertentangan di tengah masyarakat.

“Bagi saya, Milad GAM bukan hanya tentang perbedaan atau konflik masa lalu. Ini bisa menjadi pengingat bahwa Aceh pernah melewati masa yang sulit. Sekarang tanggung jawab kita bersama adalah menjaga perdamaian dan membangun Aceh ke arah yang lebih baik,” katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah munculnya sejumlah pembahasan di ruang publik mengenai Tgk Fajri Krueng dan momentum Milad GAM. Sebelumnya, Tgk Fajri Krueng bersama Azilul Nazirna Tiro diberitakan mengikuti forum Expert Mechanism on the Rights of Indigenous Peoples (EMRIP) sesi ke-19 di Jenewa pada Juli 2026 dan menyampaikan sejumlah pandangan mengenai persoalan Aceh, termasuk isu hak masyarakat dan penentuan nasib sendiri.

Di sisi lain, isu yang berkaitan dengan simbol dan peringatan sejarah Aceh juga sempat mendapat perhatian setelah peringatan Hari Damai Aceh ke-21 di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada 15 Agustus 2026, berakhir dengan kericuhan. Kepolisian kemudian menyatakan melakukan penyelidikan terhadap peristiwa tersebut.

Kondisi tersebut membuat sejumlah pihak kembali mengingat pentingnya menjaga ruang publik agar perbedaan pandangan mengenai sejarah Aceh tidak berkembang menjadi ketegangan di tengah masyarakat. Bagi Reza, generasi muda seharusnya mengambil pelajaran dari perjalanan panjang Aceh dan menjadikan perdamaian sebagai bagian penting dalam membangun masa depan daerah.

Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya, terutama konten media sosial yang dapat dipotong, dikemas ulang, atau disebarkan tanpa konteks.

“Kalau ada informasi yang membuat kita marah atau saling curiga, sebaiknya jangan langsung dipercaya dan disebarkan. Cek dulu sumbernya. Jangan sampai masyarakat justru terpecah karena informasi yang belum tentu benar,” ujarnya.

Pesan tersebut menekankan pentingnya sikap tenang dalam menyikapi perkembangan isu menjelang momentum yang berkaitan dengan sejarah Aceh. Perbedaan pandangan tetap dapat disampaikan melalui cara-cara damai, sementara masyarakat diharapkan tetap menjaga hubungan sosial dan tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu keamanan serta ketertiban.

Dengan demikian, pembahasan mengenai sejarah Aceh diharapkan tidak berhenti pada perbedaan masa lalu, tetapi juga menjadi bahan untuk memahami perjalanan perdamaian dan melihat kepentingan masyarakat Aceh ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *