Aceh — Pesan tentang perdamaian Aceh datang dari tempat yang jauh, tetapi terasa dekat bagi masyarakat Aceh. Dari Tanah Suci, mantan tapol GAM Nasruddin alias Nyak Dhien Gajah mendoakan agar Aceh terus berada dalam suasana aman, damai dan sejahtera. Pesan tersebut hadir bertepatan dengan momentum 21 tahun perdamaian Aceh yang diperingati pada 15 Agustus 2026. Doa itu menjadi pengingat bahwa setelah perjalanan panjang melewati masa konflik, Aceh kini punya tugas yang sama pentingnya, yaitu menjaga damai dan mengisinya dengan kehidupan yang lebih baik.
Pesan Nyak Dhien Gajah sejalan dengan suasana yang terlihat di berbagai daerah Aceh. Ribuan warga berkumpul di Masjid Raya Baiturrahman untuk zikir dan doa bersama memperingati 21 tahun perdamaian Aceh. Kegiatan serupa juga digelar di sejumlah kabupaten, termasuk Bireuen dan Aceh Barat Daya. Momen ini menunjukkan bahwa peringatan damai tidak hanya soal mengenang sejarah, tetapi juga menjadi kesempatan untuk kembali mengingat pentingnya hidup aman, saling menghormati dan menjaga hubungan antarmasyarakat. Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem juga mengajak masyarakat untuk terus merawat perdamaian sebagai warisan bagi generasi berikutnya. Ia menyampaikan, “Mari kita rawat perdamaian ini dengan persaudaraan. Jangan kita wariskan luka kepada anak cucu. Wariskanlah kepada mereka Aceh yang aman, bermartabat, maju, dan penuh kasih sayang.”
Seruan menjaga perdamaian juga datang dari kalangan eks kombatan GAM. Di Pidie, tokoh eks kombatan GAM Rusli alias Nagoya mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terseret informasi yang dapat memicu keresahan. Ia menegaskan bahwa perdamaian yang sudah berjalan selama bertahun-tahun menjadi fondasi penting bagi kehidupan masyarakat Aceh. Kondisi yang aman memberi ruang bagi masyarakat untuk bekerja, menjalankan usaha, menyekolahkan anak, melakukan kegiatan sosial dan ikut mendorong pembangunan. Pesannya sederhana: “Jangan mudah terpancing oleh informasi yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.”
Di sisi lain, peringatan 21 tahun damai Aceh juga menjadi momentum untuk memikirkan masa depan generasi muda. Edukasi tentang perdamaian dinilai penting agar anak-anak Aceh tidak hanya mengetahui bahwa konflik pernah terjadi, tetapi juga memahami bagaimana perdamaian harus dijaga. Perdamaian yang berjalan sejak 2005 telah memberi ruang bagi masyarakat untuk menjalankan aktivitas dengan lebih bebas dan mendorong kemajuan di berbagai bidang. Tokoh Aceh sebelumnya juga menilai perdamaian seharusnya membawa manfaat langsung bagi ekonomi, pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, doa Nyak Dhien Gajah dari Tanah Suci memiliki pesan yang sederhana dan mudah dipahami: Aceh sudah cukup lama merasakan damai, jangan sampai kembali membuka luka lama. Perbedaan pendapat tetap wajar, tetapi jangan sampai berubah menjadi pertikaian. Informasi yang belum jelas juga tidak perlu ikut disebarkan. Yang lebih penting sekarang adalah menjaga persatuan, memperkuat rasa saling percaya dan memastikan perdamaian benar-benar terasa manfaatnya bagi masyarakat. Sebab, damai bukan hanya tentang tidak adanya konflik, tetapi juga tentang anak-anak yang bisa belajar dengan tenang, orang tua yang bisa mencari nafkah dengan aman dan generasi muda yang punya ruang untuk membangun masa depan Aceh.
Dari Tanah Suci, doa untuk Aceh sudah disampaikan. Tinggal bagaimana masyarakat Aceh menjawabnya: menjaga perdamaian, menolak provokasi, memperkuat persaudaraan dan bersama-sama membangun Aceh yang lebih aman, maju dan sejahtera.