Aceh — Perdamaian Aceh bukan hanya cerita tentang masa lalu, tetapi juga tanggung jawab generasi muda untuk menjaganya. Pesan tersebut disampaikan mahasiswa UIN Ar-Raniry, Muhammad Naufal, dalam pembuatan video narasi tentang pentingnya menjaga perdamaian di Kabupaten Aceh Besar, Minggu (20/9/2026) malam.
Kegiatan pembuatan video berlangsung di Perum Aiman Rukoh, Banda Aceh, pada pukul 22.00 hingga 23.30 WIB. Dalam kegiatan tersebut dibuat tiga video narasi yang mengangkat tema menjaga perdamaian, kerukunan dan peran generasi muda dalam menciptakan suasana Aceh yang aman dan nyaman.
Dalam narasinya, Muhammad Naufal menyampaikan bahwa perdamaian merupakan jembatan yang menghubungkan masyarakat dalam suasana persatuan dan kebersamaan. Menurutnya, pengalaman Aceh menunjukkan bahwa kehidupan yang damai memberi ruang bagi masyarakat, khususnya anak muda, untuk belajar, berkembang dan membangun masa depan.
Naufal juga menekankan pentingnya menjaga lingkungan kampus dan masyarakat agar tetap jauh dari perpecahan maupun provokasi. Baginya, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar, tetapi harus disikapi dengan komunikasi dan saling menghargai sehingga tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Pesan tersebut relevan dengan situasi Aceh dalam beberapa waktu terakhir. Pada peringatan 21 tahun perdamaian Aceh, 15 Agustus 2026, kegiatan doa dan zikir bersama di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, sempat diwarnai ketegangan setelah muncul aksi pengibaran Bendera Bulan Bintang. Peristiwa tersebut kemudian berkembang menjadi kericuhan antara massa dan petugas keamanan. Pemerintah Aceh dan DPRA selanjutnya menyepakati konsultasi dengan pemerintah pusat untuk mendapatkan kepastian hukum mengenai status bendera tersebut.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa isu-isu yang berkaitan dengan sejarah, identitas dan perdamaian Aceh masih membutuhkan ruang komunikasi yang terbuka dan tenang. Karena itu, keterlibatan generasi muda melalui pendidikan, diskusi dan kegiatan kreatif dapat menjadi salah satu cara untuk membangun kebiasaan menyelesaikan perbedaan tanpa memperbesar ketegangan.
Pesan perdamaian dari kalangan anak muda juga sejalan dengan dorongan berbagai pihak di Aceh. Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah sebelumnya mengajak masyarakat terus menjaga perdamaian karena kondisi damai memberi kesempatan bagi Aceh untuk berbenah, termasuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperbaiki kesejahteraan masyarakat.
Di bidang pendidikan, perhatian terhadap nilai perdamaian juga terus dikembangkan. Pada September 2026, MIN 27 Aceh Besar menandatangani kerja sama dengan International Women’s Peace Group (IWPG) di Korea Selatan untuk penguatan pendidikan perdamaian di lingkungan madrasah. Program tersebut mencakup pelatihan guru, pertukaran budaya dan penguatan pendidikan perdamaian bagi siswa.
Bagi generasi muda, menjaga perdamaian tidak harus dilakukan melalui hal-hal besar. Sikap saling menghormati, tidak mudah terpancing informasi yang belum jelas, menyelesaikan perbedaan melalui komunikasi dan mengisi masa muda dengan pendidikan serta kegiatan positif merupakan bagian dari cara sederhana merawat suasana damai.
Muhammad Naufal sendiri merupakan mahasiswa UIN Ar-Raniry yang sebelumnya meraih posisi Wakil I Agam Aceh 2025 dan dikenal melalui kegiatan yang berkaitan dengan promosi potensi pariwisata serta budaya Aceh.
Melalui video yang dibuat, pesan yang ingin disampaikan cukup sederhana: perdamaian bukan sekadar diperingati setiap tahun, tetapi perlu dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Kampus dan lingkungan masyarakat dapat menjadi ruang untuk belajar berbeda pendapat, berdiskusi dan bekerja sama tanpa harus kembali pada suasana konflik.
Pada akhirnya, generasi muda memiliki ruang yang besar untuk mengisi perdamaian dengan hal-hal yang lebih nyata. Pendidikan, kreativitas, kegiatan sosial, ekonomi dan kolaborasi dapat menjadi bagian dari perjalanan Aceh setelah konflik. Dengan suasana yang aman dan komunikasi yang baik, energi anak muda dapat diarahkan untuk membangun Aceh Besar dan Aceh secara lebih luas.