Aceh – Media sosial memang bisa menjadi tempat berbagi informasi dengan cepat. Namun, ketika sebuah video disertai narasi yang mengundang rasa takut dan curiga, masyarakat perlu lebih teliti sebelum mempercayainya. Salah satunya adalah konten di akun Facebook “Nasir Usman Usman” yang menggunakan kalimat “KKB BAJU LORENG is back to make people restless Aceh…”.
Kalimat tersebut memberi kesan bahwa kelompok bersenjata kembali hadir dan berpotensi membuat masyarakat Aceh resah. Namun, kesimpulan seperti itu tidak seharusnya langsung diterima hanya berdasarkan tulisan yang menyertai video. Perlu ada kejelasan mengenai waktu kejadian, lokasi, identitas pihak yang terlibat, serta konteks asli rekaman tersebut.
Fakta Perlu Dilihat Secara Utuh
Salah satu contoh pentingnya memeriksa konteks terjadi pada Desember 2025, ketika sebuah video memperlihatkan dua orang meminta sebagian bantuan banjir dari kapal feri yang menuju wilayah terdampak bencana di Aceh. Video tersebut ramai diperbincangkan dengan narasi yang mengaitkan pelakunya dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Namun, berdasarkan keterangan Mabes TNI yang diberitakan Jawa Pos, pihak yang terlibat dalam kejadian pada 4 Desember 2025 itu disebut sebagai dua anggota KPA Meja Ijo Idi Cut, bukan kelompok bersenjata GAM. Mereka meminta sebagian bantuan diturunkan, tetapi tidak dapat menunjukkan surat perintah atau keterangan resmi dari pemerintah kabupaten setempat. Petugas kapal menolak permintaan tersebut dan kapal kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kuala Langsa. <Cite refs={[“turn469042view1″,”turn584686search0”]}/>
Peristiwa itu menunjukkan bahwa kejadian nyata pun bisa menimbulkan kesalahpahaman ketika diberi narasi yang tidak sesuai dengan hasil klarifikasi. Karena itu, masyarakat perlu membedakan antara kejadian yang benar-benar berlangsung dan klaim yang ditambahkan oleh pengunggah.
Jangan Sampai Seragam dan Potongan Video Jadi Alat Adu Domba
Seragam loreng, baret, simbol, atau potongan percakapan dalam sebuah video belum cukup untuk memastikan identitas maupun afiliasi seseorang. Apalagi jika rekaman tersebut tidak disertai informasi yang jelas mengenai kapan dan di mana peristiwa berlangsung.
Pemberitaan ANTARA Aceh pada November 2019 juga pernah mengangkat kasus dua orang yang ditangkap karena diduga membuat dan menyebarkan video bernuansa rasial serta ujaran kebencian. Polisi saat itu turut menyita senjata api rakitan dan sejumlah seragam loreng. Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa video dan atribut tertentu dapat digunakan untuk membangun kesan yang menyesatkan, sehingga isi dan sumbernya perlu diperiksa dengan cermat. <Cite refs={[“turn584686view2”]}/>
Perdamaian Aceh Jangan Dikalahkan oleh Informasi yang Belum Jelas
Aceh memiliki pengalaman panjang menghadapi konflik dan kini memiliki kesempatan untuk terus membangun kehidupan yang lebih aman. Karena itu, setiap informasi yang berpotensi memunculkan ketakutan, kebencian, atau kecurigaan antarkelompok perlu disikapi dengan kepala dingin.
Masyarakat tidak harus langsung percaya ataupun langsung menolak sebuah video. Langkah yang lebih bijak adalah memeriksa sumber aslinya, membandingkan pemberitaan dari media tepercaya, mencari klarifikasi pihak terkait, dan memastikan apakah rekaman tersebut benar-benar menggambarkan peristiwa yang diklaim.
Bijak Bermedia Sosial, Damai Aceh Tanggung Jawab Bersama
Sebelum menekan tombol bagikan, tanyakan tiga hal sederhana: apakah sumbernya jelas, apakah konteksnya lengkap, dan apakah informasinya sudah dikonfirmasi? Jika jawabannya belum, lebih baik tahan dulu daripada ikut menyebarkan kabar yang berpotensi merugikan orang lain.
Menjaga perdamaian bukan berarti menutup mata terhadap persoalan. Justru, masyarakat perlu berani mencari fakta, menyampaikan kritik secara bertanggung jawab, dan tidak membiarkan informasi yang belum teruji memperkeruh suasana.
Aceh membutuhkan ruang digital yang sehat, tempat masyarakat bisa berdiskusi tanpa saling menakut-nakuti atau mengadu domba. Jangan biarkan sebuah video membuat kita buru-buru mengambil kesimpulan. Cek faktanya, jaga persaudaraan, dan rawat damai Aceh bersama.