Aceh — Pengalaman masa lalu bisa menjadi pelajaran untuk menjaga masa depan. Pesan itulah yang disampaikan Surya Aca alias Abu Semak Belukar dalam sebuah pertemuan di kawasan Ulee Lheu, Banda Aceh, Sabtu, 12 September 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Surya Aca menyampaikan dukungannya agar Aceh tetap aman dan damai, terutama menjelang peringatan Milad GAM yang diperingati setiap 4 Desember. Ia mengajak masyarakat tidak mudah terpancing oleh berbagai isu atau provokasi yang berpotensi membuat suasana kembali memanas.
Surya Aca diketahui merupakan salah satu terdakwa dalam perkara terorisme Aceh pada 2010. Namanya tercatat dalam pemberitaan dan dokumen putusan pengadilan terkait jaringan pelatihan militer di Aceh pada periode tersebut. Pengadilan Negeri Jakarta Barat pada 30 Desember 2010 menjatuhkan hukuman delapan tahun penjara kepadanya.
Kasus tersebut berkaitan dengan keberadaan kelompok teror yang melakukan pelatihan bersenjata di kawasan Bukit Jalin, Aceh Besar. Sejumlah penelitian dan catatan pemberitaan menyebut kawasan tersebut menjadi lokasi pelatihan kelompok teror pada 2010 sebelum aparat melakukan penindakan.
Kini, dalam pertemuan tersebut, Surya Aca justru menyampaikan pesan yang berbeda dari masa lalunya. Ia mengatakan bahwa masyarakat Aceh sudah cukup merasakan dampak konflik dan kekerasan. Menurutnya, kondisi yang tidak aman bukan hanya membuat masyarakat khawatir, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ia bersedia ikut menyampaikan pesan perdamaian melalui konten edukasi kepada masyarakat. Pesan yang dibawa sederhana: jangan mudah terprovokasi, jangan ikut menyebarkan informasi yang belum jelas, dan tetap menjaga hubungan baik antarwarga.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu-isu yang berkaitan dengan peringatan 4 Desember. Dalam beberapa tahun terakhir, peringatan Milad GAM di sejumlah wilayah Aceh memang kerap diwarnai perdebatan mengenai simbol dan pengibaran bendera Bulan Bintang.
Pengalaman masa lalu juga menunjukkan bahwa pendekatan dialog dan komunikasi dapat membantu menjaga suasana tetap tenang. Pada sejumlah momentum sebelumnya, aparat dan masyarakat pernah melakukan komunikasi secara persuasif untuk mencegah persoalan simbol maupun kegiatan peringatan berkembang menjadi gangguan keamanan.
Terbaru, pada peringatan Hari Damai Aceh, 15 Agustus 2026, terjadi kericuhan di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, setelah pengibaran bendera Bulan Bintang. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa isu yang berkaitan dengan simbol dan sejarah Aceh masih membutuhkan komunikasi yang hati-hati agar tidak berkembang menjadi benturan di tengah masyarakat.
Di sisi lain, peringatan 4 Desember juga pernah dilakukan dengan kegiatan sosial dan keagamaan seperti doa bersama, zikir, santunan anak yatim, serta ziarah. Hal ini menunjukkan adanya ruang bagi masyarakat untuk mengenang sejarah dengan cara yang tidak mengganggu kehidupan bersama.
Pada akhirnya, pesan yang disampaikan Surya Aca kembali pada hal yang paling sederhana: Aceh sudah pernah melewati masa sulit, sehingga perdamaian yang ada sekarang perlu dijaga bersama. Perbedaan pandangan tidak harus berujung pada pertentangan, sementara media sosial sebaiknya digunakan untuk menyebarkan informasi yang menenangkan, bukan memperkeruh suasana.
Jaga damai Aceh. Jangan mudah terpancing. Beda pandangan boleh, persaudaraan tetap jalan. 🕊️🤝
#AcehDamai #JagaPerdamaianAceh #TolakProvokasi #AcehAman #RawatPerdamaian #AcehBersatu #BijakBermedsos #JagaPersatuan #DamaiItuPilihan