Tokoh Agama Lhokseumawe Ajak Generasi Muda Rawat Perdamaian Aceh Jelang Milad GAM
Tokoh Agama Lhokseumawe Ajak Generasi Muda Rawat Perdamaian Aceh Jelang Milad GAM

Tokoh Agama Lhokseumawe Ajak Generasi Muda Rawat Perdamaian Aceh Jelang Milad GAM

Aceh – Menjelang peringatan Milad Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 4 Desember 2026, Tgk. Ahmad Subhan, tokoh agama sekaligus Sekretaris PCNU Lhokseumawe, mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus menjaga perdamaian Aceh dan tidak mudah terpengaruh oleh provokasi yang dapat mengganggu kerukunan.

Ajakan tersebut disampaikan melalui pembuatan video pada Minggu, 27 September 2026, sekitar pukul 11.30 WIB. Dalam video itu, Tgk. Subhan mengingatkan bahwa perdamaian yang telah terjalin selama lebih dari dua dekade merupakan sesuatu yang berharga dan menjadi tanggung jawab bersama untuk terus dijaga.

Perdamaian Aceh, Warisan Berharga untuk Generasi Muda

Perdamaian Aceh yang terwujud melalui kesepakatan Helsinki pada 15 Agustus 2005 telah membuka lembaran baru bagi masyarakat setelah puluhan tahun hidup dalam konflik.

Bagi Tgk. Subhan, pengalaman masa lalu menjadi pengingat penting agar masyarakat tidak kembali mengalami masa-masa sulit akibat konflik. Ia berharap generasi muda, khususnya di Kota Lhokseumawe, dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kedamaian tersebut.

Dalam video yang dibuatnya, ia mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk bersama-sama merawat perdamaian agar dapat terus dinikmati hingga generasi mendatang.

Ia juga mengingatkan anak-anak muda agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai provokasi yang berpotensi mengganggu suasana damai di Aceh.

Menjelang Milad GAM, Pentingnya Menjaga Persaudaraan

Peringatan Milad GAM pada 4 Desember mendatang menjadi salah satu momentum untuk mengingat kembali perjalanan panjang perdamaian Aceh.

Dalam pesannya, Tgk. Subhan berharap masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh pihak-pihak yang berusaha memanfaatkan situasi untuk kepentingan tertentu. Ia mengajak masyarakat untuk lebih mengutamakan persaudaraan, saling menghormati, dan menghindari tindakan yang dapat menimbulkan perpecahan.

Pesan tersebut sejalan dengan ajakan Gubernur Aceh Muzakir Manaf pada peringatan Hari Damai Aceh ke-21, Agustus 2026, yang menekankan pentingnya persaudaraan serta mewariskan kehidupan yang aman dan bermartabat kepada generasi mendatang.

Menjaga Perdamaian, Membuka Peluang Masa Depan

Bagi masyarakat Aceh, perdamaian tidak hanya berarti berakhirnya konflik. Kedamaian juga memberikan kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik, mulai dari pendidikan, pekerjaan hingga perkembangan ekonomi daerah.

Generasi muda yang tumbuh setelah penandatanganan kesepakatan Helsinki pada 2005 memiliki pengalaman berbeda dengan generasi yang pernah merasakan konflik secara langsung. Karena itu, mengenalkan sejarah perdamaian menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman tentang perjalanan Aceh.

Selain mengingat sejarah, masyarakat juga perlu memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi, membicarakan perbedaan pandangan, dan mencari penyelesaian melalui dialog tanpa kekerasan.

Media Sosial sebagai Ruang Berbagi Pesan Perdamaian

Video yang dibuat Tgk. Subhan direncanakan untuk disebarkan melalui media sosial agar pesan yang disampaikannya dapat menjangkau masyarakat lebih luas.

Melalui video tersebut, masyarakat diajak untuk lebih bijak dalam menerima informasi, tidak mudah mempercayai kabar yang belum jelas kebenarannya, serta tetap menghargai perbedaan pendapat.

Media sosial juga dapat menjadi ruang untuk berbagi cerita tentang perjalanan perdamaian Aceh, mengenalkan sejarah kepada generasi muda, dan membuka diskusi mengenai harapan masyarakat terhadap masa depan daerahnya.

Mewujudkan Harapan Bersama untuk Aceh

Lebih dari dua dekade setelah kesepakatan Helsinki, upaya menjaga perdamaian masih terus berjalan. Persoalan kesejahteraan, pembangunan, dan pelaksanaan kesepakatan damai tetap menjadi bagian dari pembicaraan mengenai masa depan Aceh.

Melalui pesan yang disampaikannya, Tgk. Subhan berharap masyarakat, terutama generasi muda Lhokseumawe, dapat terus merawat kedamaian dalam kehidupan sehari-hari.

Perbedaan pandangan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Dengan mengutamakan dialog, saling menghargai, dan menghindari kekerasan, berbagai aspirasi dapat disampaikan tanpa mengorbankan keamanan dan persaudaraan.

Perdamaian Aceh bukan hanya tentang mengenang perjalanan masa lalu, melainkan juga tentang memastikan bahwa generasi mendatang dapat menikmati kehidupan yang aman, sejahtera, dan penuh kesempatan.

Catatan redaksi: Keterangan mengenai pembuatan video pada 27 September 2026 bersumber dari bahan yang diberikan dan belum diverifikasi secara independen. Sebaiknya konfirmasi nama, jabatan, waktu kegiatan, dan persetujuan narasumber sebelum artikel diterbitkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *