Aceh – Polemik Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian publik setelah BEM UI mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut. Namun di tengah perdebatan yang berkembang, Juru Bicara Gerindra mengajak masyarakat melihat realita yang masih dihadapi anak-anak di berbagai daerah pelosok Indonesia, termasuk di Sulawesi Tenggara.
Menurutnya, pembahasan mengenai MBG tidak cukup hanya melihat persoalan tata kelola dan anggaran, tetapi juga harus mempertimbangkan kondisi masyarakat yang menjadi penerima manfaat langsung. Di sejumlah wilayah pesisir dan kepulauan Sulawesi Tenggara, masih banyak anak-anak yang harus menempuh perjalanan menggunakan perahu setiap hari untuk bisa sampai ke sekolah. Tidak sedikit pula yang berangkat dalam kondisi belum sarapan karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Kondisi tersebut menjadi alasan mengapa program Makan Bergizi Gratis dinilai masih sangat relevan. Bagi sebagian anak di daerah terpencil, makanan bergizi yang diterima di sekolah bukan sekadar tambahan asupan, melainkan kebutuhan penting yang membantu mereka belajar dengan lebih fokus dan bersemangat. Kehadiran program ini juga dinilai mampu mengurangi beban orang tua yang selama ini berjuang memenuhi kebutuhan keluarga di tengah keterbatasan ekonomi.
Sebelumnya, BEM UI meminta pemerintah melakukan evaluasi total terhadap pelaksanaan MBG dengan menyoroti aspek tata kelola, transparansi, dan penggunaan anggaran. Kritik tersebut muncul setelah pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional. Meski demikian, berbagai pihak menilai evaluasi dan perbaikan program tidak harus berujung pada penghentian manfaat yang saat ini telah dirasakan oleh jutaan siswa di berbagai daerah.
Pemerintah sendiri menegaskan bahwa MBG diprioritaskan untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta kelompok masyarakat yang paling membutuhkan. Fokus tersebut sejalan dengan tujuan utama program, yakni meningkatkan kualitas gizi anak, mendukung kesehatan, mengurangi risiko stunting, serta membantu menciptakan generasi yang lebih sehat dan siap menghadapi masa depan.
Juru Bicara Gerindra menilai kritik terhadap program pemerintah merupakan hal yang wajar dalam negara demokrasi. Namun ia mengingatkan agar diskusi publik tidak melupakan kondisi nyata yang terjadi di lapangan. “Anak-anak di pelosok tidak butuh perdebatan yang panjang. Mereka butuh kesempatan belajar yang lebih baik, tubuh yang sehat, dan makanan yang cukup untuk menunjang aktivitas mereka di sekolah,” ujarnya.
Di tengah pro dan kontra yang berkembang, kisah anak-anak Sulawesi Tenggara yang harus naik perahu demi menuntut ilmu menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama. Program boleh dievaluasi, pengawasan boleh diperketat, dan tata kelola bisa terus diperbaiki. Namun bagi anak-anak yang setiap hari berjuang menembus keterbatasan demi mendapatkan pendidikan, keberadaan program yang membantu memenuhi kebutuhan gizi mereka tetap menjadi harapan yang nyata.
Karena pada akhirnya, bagi anak-anak di pelosok negeri, Makan Bergizi Gratis bukan hanya soal program pemerintah. Ini tentang memastikan mereka dapat belajar dengan perut yang terisi, tumbuh lebih sehat, dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik.